Al-Chemist Ungu

because chemistry is true and this just for you

Peluang Bisnis Menggiurkan di Balik Pecahan Limbah Kaca


Jangan sepelekan limbah kaca. Mungkin itulah yang ingin disampaikan Agus Hermanto ketika memulai usahanya pada sekitar awal 1993 lalu. Bermodalkan kreativitas, ia mengolah pecahan limbah kaca menjadi sejumlah pajangan bernilai seni.

Sampai saat ini sampah merupakan masalah serius di negeri ini, terutama di kota-kota besar dengan jumlah penduduk yang melebihi batas. Dengan teknologi yang tepat, sampah yang tadinya menjadi masalah sebagai barang buangan, kotor, berbau, menimbulkan penyakit dan mencemari lingkungan dapat menjadi barang yang bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Sampah anorganik bisa membantu mengembangkan industri daur ulang (recycling). Kertas bekas akan di daur ulang oleh industri kertas, sampah plastik dan kaca akan di daur ulang menjadi bahan baku industri, sedangkan sampah organik dapat mengembangkan industri pengolah kompos menjadi pupuk organik dan juga dapat diolah menjadi industri energi/industri bahan bangunan.

Daur ulang adalah salah satu cara yang digunakan untuk meminimalkan jumlah sampah yang ada untuk meningkatkan nilai ekonomisnya menjadi barang-barang yang berguna. Daur ulang merupakan proses untuk mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru.
Material yang bisa didaur ulang terdiri dari sampah kaca, plastik, kertas, logam, tekstil, dan barang elektronik. Meskipun mirip, proses pembuatan kompos yang umumnya menggunakan sampah biomassa yang bisa didegradasi oleh alam, tidak dikategorikan sebagai proses daur ulang. Daur ulang lebih difokuskan kepada sampah yang tidak bisa didegradasi oleh alam secara alami demi pengurangan kerusakan lahan. Secara garis besar, daur ulang adalah proses pengumpulan sampah, penyortiran, pembersihan, dan pemrosesan material baru untuk proses produksi.

Salah satu usaha daur ulang adalah daur ulang pada produk berbahan kaca. Banyak cara yang digunakan oleh para pengrajin untuk memanfaatkan kaca-kaca bekas sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan. Salah satunya adalah benda seni berupa kerajinan gelas dari bahan pecahan kaca. Selain terkesan mewah, bentuknya yang unik akan menarik para konsumen. Ini bisa menjadi peluang bisnis yang cukup menggiurkan dengan kerajinan berbahan baku pecahan kaca.

Bahan yang dibutuhkan adalah pecahan kaca atau pecahan botol bekas, toples bekas dan apa saja yang berbahan kaca. Bahan baku tersebut dibersihkan dari bahan kontaminan, dicuci hingga bersih dan dilebur dalam tungku pemanas bersuhu 1.500 derajat Celcius selama 24 jam. Setelah benar-benar meleleh, selanjutnya kaca itu dibentuk sesuai dengan keinginan. Dapat juga dipakai sebagai bahan bangunan dan jalan. Sudah ada Glassphalt, yaitu bahan pelapis jalan dengan menggunakan 30% material kaca daur ulang.

Berbagai bentuk dapat dibentuk dari limbah-limbah kaca itu menjadi bentuk baru dengan nilai tambah di dalamnya. Mulai vas, kap lampu, maupun bentuk baru berupa mainan, antara lain, berbentuk senjata api, kereta api, mobil, helikopter, sepeda motor, andong, becak, dan alat musik drum. Harga yang ditawarkan pun cukup bervariasi yaitu mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 15 juta tergantung ukuran dan tingkat kerumitan proses pembuatan.

Agus Hermanto lantas menceritakan pengalamannya. Katanya, hal itu bermula dari pecahan kaca meja di rumah. Saat itu ia berpikir, sayang bila pecahan tersebut dibuang. Agus pun memotong kaca yang agak tebal menjadi kotak-kotak kecil berukuran dua sentimeter hingga puluhan sentimeter.

Dengan gunting kaca dan beberapa peralatan sederhana lainnya, lelaki ini mulai membentuk miniatur masjid yang lengkap dengan kubah. Hasil pertama agak memuaskan membuat Agus tertarik membuat bentuk lainnya. Seperti, miniatur Candi Borobudur, menara Eifel, tugu Monas, dan masih banyak lagi.

Karya seni itu kemudian dijual Rp 15 ribu sampai jutaan rupiah per buahnya. Dan ternyata, hasil kerajinan warga Kelurahan Utama, Cimahi, Jawa Barat, itu ternyata diburu banyak orang. Pembeli bukan hanya warga Cimahi dan Bandung, melainkan sampai ke luar negeri.

Kini, Agus tak kerja sendiri. Ia dibantu saudara dan karyawannya. Ia berharap usaha yang digelutinya itu bisa makin berkembang. (fn/id/lp) www.suaramedia.com

0 komentar:

Poskan Komentar