Al-Chemist Ungu

because chemistry is true and this just for you

LERAK...sang deterjen alami

Di jaman kita hidup sekarang, sangatlah lebih enak bila dibandingkan mudanya kakek nenek kita. Apalagi di era yang serba modern dan instan sekarang ini, kita tidak perlu bersusah-susah. Mau masak nasi tinggal masukin beras ke rice cooker, mau nyuci tinggal masukin pakaian kotor plus deterjen ke mesin cuci.

Ngomong-ngomong tentang cuci-mencuci, siapa yang yang tak kenal deterjen dengan segudang merk yang beredar di negeri kita ini. " Cukup setakar bisa buat nyuci pakaian kotor seember..".. " Mencuci tangan tetap lembut...". " kekuatan sepuluh tangan.." dan sebagainya... Begitulah berbagai bunyi hasutan dari berbagai iklan deterjen di televisi. Namun dari sekian banyak produk deterjen yang beredar di pasaran, apakah ada yang benar-benar ramah lingkungan ?

deterjen merupakan buah kemajuan teknologi,
namun dampaknya sangat merusak lingkungan

Setelah mencuci baju, kulit tangan Anda terasa kering, panas, melepuh, retak-retak, gampang mengelupas hingga gatal? Bila itu yang Anda rasakan, maka deterjen Anda adalah bukan deterjen yang baik bagi kesehatan. Hati-hati, pemakaian terus-menerus menimbulkan gangguan pada fungsi-fungsi organ, seperti pada sistem pencernaan dan fungsi hati. Air yang terkontaminasi deterjen, dapat mengganggu fungsi-fungsi organ. Dalam waktu panjang, dapat merusak sistem pencernaan, dan fungsi hati. Hal itu disebabkan oleh susunan rantai kimia surfaktan, yang ada di dalam deterjen itu.

Ternyata selain tidak bersahabat dengan tubuh manusia, deterjen juga tidak ramah terhadap lingkungan. Di dalamnya terdapat zat-zat yang tidak bisa atau sulit terurai secara alami oleh tanah. Zat-zat kimia tersebut kemudian terakumulasi selama bertahun-tahun dan merembes ke dalam sumber air tanah. Zat pembersih seperti chlorine— yaitu zat kimia yang banyak dipakai sebagai pemutih dalam deterjen—membutuhkan waktu selama 150 tahun untuk terurai sempurna. Demikian juga ABS (alkyl benzene sulphonate), zat kimia yang digunakan sebagai penghasil busa pada berbagai deterjen. Saking kuatnya ikatan rantai molekul-molekul penyusunnya, ABS baru bisa terurai sempurna dalam waktu kurang lebih 500 tahun!!

Pada masa mudanya kakek nenek kita dahulu, mereka tidak mengenal yang namanya deterjen. Boro-boro mengenal, mungkin pabriknya saja belum ada. Untuk keperluan mencuci baju, mereka memanfaatkan busa yang diperoleh dari tumbuhan yang bernama "Lerak". Lerak (terutama Sapindus rarak De Candole, dapat pula S. mukorossi) atau dikenal juga sebagai rerek atau lamuran adalah tumbuhan yang dikenal karena kegunaan bijinya yang dipakai sebagai deterjen tradisional.

buah lerak sekilas mirip dengan buah kurma, tetapi bentuknya bulat, sedang buah kurma lonjong
Tumbuhan lerak berbentuk pohon dan rata-rata memiliki tinggi 10m walaupun bisa mencapai 42 meter dengan diameter 1m, karenanya pohon lerak besar dengan kualitas kayunya setara dengan kayu jati. Sehingga banyak ditebang karena memiliki nilai ekonomis. Bentuk daunnya bulat-telur berujung runcing, bertepi rata, bertangkai pendek dan berwarna hijau. Biji terbungkus kulit cukup keras bulat seperti kelereng, kalau sudah masak warnanya coklat kehitaman, permukaan buah licin dan mengkilat.

Biji lerak mengandung saponin, suatu alkaloid beracun, saponin inilah yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci, dan dapat pula dimanfaatkan sebagai pembersih berbagai peralatan dapur, lantai, bahkan dapat dipakai untuk memandikan dan membersihkan binatang peliharaan. Kandungan racun biji lerak juga berpotensi sebagai insektisida. Cara mendapatkan busa buah lerak sangatlah gampang. Buah lerak cukup dimemarkan dengan cara dipukul. Lalu gosokkan buah lerak yang telah memar tadi pada kain atau baju yang akan dicuci. Dengan kain atau pakaian dibasahi terlebih dahulu. Kulit buah lerak dapat digunakan sebagai pembersih wajah untuk mengurangi jerawat dan kudis. Busa yang dihasilkan dari buah lerak tidaknya merusak lingkungan. Busa tersebut dengan sendirinya akan terurai.
 
 
mencari buah lerak sangat sulit, karena pohon sudah jarang


Namun sekarang ini sangatlah sulit untuk menemukan pohon lerak. Biasanya para pengrajin batik tradisionallah yang masih menggunakan lerak untuk mencuci kain batik. Busa buah lerak tidak akan merusak warna kain batik, namun justru sebaliknya. Dengan di cuci dengan menggunakan busa buah lerak, warna kain batik akan bertahan lebih lama.

The Sun as a Source of Negative Entropy

The Biosphere is defined here as all of the matter which is used to 'build' living organisms. Part of this matter is in the living organisms and part in the 'recycling' stage. The environment is defined here as all the other matter on Earth and in the Universe, including radiation.
In order to get more organized, the Biosphere requires an influx of 'negative entropy' (first mentioned by E. Schrodinger - ref [2]) from external sources (entropy is extracted from the Biosphere) in order to conform to the II Law of Thermodynamics. What are the sources of this 'negative entropy' ? The Sun is the major source of the energy on Earth. Another source of 'natural energy' is geothermal energy. However, the total balance of energy for the Biosphere is on average zero for energy from the Sun, the same amount of energy is absorbed as is released, and is also on average zero for the Geothermal energy from Earth, when the Biosphere is in a steady-state condition. 






Fig.2. Three Thermodynamic Subsystems Sun, Biosphere and Universe. The Biosphere extracts negative entropy in the process of exchanging"Hot" Photons (Black Body radiation at T= 5800 K) to "Cold" Photons (Black Body radiation at T=280 K). This process is responsible for the mysterious "Life Force" which seems to defy II Law of Thermodynamics.
What is the source of negative entropy ? The Sun's energy is highly organized and carried by photons. Our Biosphere absorbs this energy and then releases it back to the Universe -the global balance of energy is zero (Fig.2). However, energy released to the environment is in the form of electromagnetic radiation, which is on average at longer wavelengths than the absorbed photons (Fig.1 and 2). The black body radiation of the Sun (5800 K), which is absorbed by the Biosphere has a much higher temperature than the black body radiation from the Biosphere and Earth (280 K) flowing to the Universe (3 K) (Fig.2).
The explanation is that the Biosphere does not accumulate energy when it is in steady-state condition, but it accumulates negative entropy and increases in organization. This is the difference between the entropy of absorbed radiation and the emitted radiation at longer wavelengths of photons (Fig.1 and 2). On the basis of this theory quantitative calculations of the total "negative entropy" balance on Earth, can be made. 


sources:http://www.digital-recordings.com/