Al-Chemist Ungu

tentang Pendidikan dan Kimia

SAVE OUR WATER

Minggu ini, bisa dibilang kuliah terakhir 'Environmental Chemistry', ini berart, 2minggu lagi UAS.. Dan berakhir juga kuliah yang menyenangkan bersama Pak Projo. di satu pihak aku tak senang, di lain pihak aku bersyukur. Kenapa sampai tak senang? Entah kenapa kuliahku bersama pak Projo kali ini, berbeda dengan kuliah sebelumnya, di Kimia Dasar 1 dan basic Chemistry 2. Di kuliah Environmental Chemistry ini, pak projo bener2 bisa membuat kami (mungkin hanya saya yang sangat tertarik) interesting dengan yang beliau ajarkan, karena benar2 kami diajak ke dunia nyata dan apa yang sedang kami hadapi sekarang ini --permasalahan lingkungan, red
Tapi, di sisi lain saya senang dan bersyukur, karena akhirnya saya mengakhiri kuliah saya bersama teman2 (lebih tepatnya kakak tingkat) yang hampir semua tidak saya kenal-- benar2 seperti terasingkan. Walaupun saya yakin, Mr. Projo knows who is me...
Ya,,,dan inilah persembahan saya untuk kuliah ini, sebuah tugas yang penuh dengan kejujuran, karena saya mencintai kimia, dan saya cinta lingkungan...
IDENTIFIKASI PENGGUNAAN AIR
UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA
Air merupakan salah satu senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, yang fungsinya tentu saja tidak bisa digantikan oleh senyawa lainnya, karena air mempunyai sifat-sifat yang khas. Hampir seluruh kegiatan manusia membutuhkan air, seperti makan, minum, mencuci, membersihkan diri atau mandi, membersihkan tempat tinggal, dan masih banyak aktivitas lain yang menggunakan air. Semua itu tak lepas dari kebutuhan akan air bersih yang mulai dari sekarang. Mengalami kelangkaan.
Permukaan bumi kita, 70%-nya adalah berupa air, akan tetapi ini hanyalah jumlah teoritis, karena pada faktanya hanya sebagian kecil saja yang dapat benar-benar dimanfaatkan yaitu kira-kira 0,003% Dari 70% keseluruhan jumlah air, 97%-nya ada dalam samudra atau laut yang kadar garamnya terlalu tinggi sehingga belum bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Kemudian 3% sisanya, 87% tersimpan di lapisan kutub yang sangat dalam di bawah tanah. Jadi bisa kita bayangkan berapa persentase air yang benar-benar bisa digunakan, untuk masyarakat di seluruh bagian bumi ini. Sedangkan air yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan adalah air bersih, yaitu sumber daya berbasis air yang bermutu baik dan bisa dimanfaatkan manusia untuk dikonsumsi atau melakukan aktivitas sehari-hari, seperti contohnya sanitasi.
Untuk konsumsi air minum menurut departemen kesehatan, syarat air minum yang baik adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, tidak tercemar bakteri dan tidak mengandung logam berat. Senada dengan hal ini, ancaman krisis air bersih di berbagai belahan dunia, baik negara maju maupun negara berkembang, dan Indonesia adalah salah satu negara yang tak luput dari ancaman tersebut. Hanya saja karena ketersediaan sumber daya alam itu masih cukup tinggi dan didukung dengan keberadaan siklus musim yang baik, serta sumber air yang melimpah (air tanah dan air permukaan) menyebabkan fenomena krisis air di negeri ini kurang disadari. Padahal faktanya, krisis air hampir terjadi di semua daerah, yang dapat dibuktikan saat berlangsung musim kemarau. Penyebabnya adalah karena pertambahan populasi, perubahan iklim, konversi hutan di hulu, perubahan areal vegetasi menjadi kepentingan bisnis berskala besar dan infrastruktur, serta gagalnya rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS).
Derajat kelangkaan akan makin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk yang cepat disertai pola hidup yang menuntut penggunaan air yang relatif banyak tentunya akan menmbah tekanan terhadap kuantitas air. Pemanfaatan air untuk berbagai penggunaan cenderung melebihi kapasitas air yang tersedia dan belum terintegrasi dengan upaya konservasi air, yang malah diabaikan para pengguna. Tekanan terhadap sumber daya air juga mengubah kualitas air menjadi makin buruk salah satu penyebabnya adalah pencemaran air permukaan dan air bawah permukaan seperti terjadinya eutrofikasi danau, intrusi air laut (menyebabkan salinitas tinggi), dan kebocoran limbah industri. Bahkan tak jarang sumur penduduk tercemari oleh bakteri E. Coli dari kotoran manusia akibat adanya kebocoran septic tank.  Kebutuhan akan air semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan ragam kebutuhan yang menuntut sumber daya air dalam jumlah banyak, baik untuk rumah tangga, irigasi, penggelontoran, energi, rekreasi dan aspek kehidupan lainnya.
Pemanfaatan air secara efisien dengan mempertimbangkan kebutuhan yang rasional dan pasokan yang makin terbatas perlu dilakukan. Setiap pengguna air harus melakukan upaya konservasi air dan ini perlu dituangkan dalam peraturan perundangan yang mengikat dan dilaksanakan secara konsisten. Pemerintah perlu memfasilitasi pengguna air dalam melaksanakan konservasi air. Penerapan inovasi teknologi panen air dan konservasi air seperti embung, dam parit, sumur resapan, dan rorak perlu dilakukan. Proporsi penggunaan air untuk setiap sektor perlu ditetapkan melalui analisis kebutuhan air setiap sektor, identifikasi potensi sumber daya air permukaan dan bawah permukaan, serta curah hujan efektif dalam pengisian air bawah permukaan.
Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga di antaranya adalah untuk aktivitas-aktivitas manusia, seperti memasak, minum, mandi, mencuci, dan sanitasi. Kesemuanya membutuhkan air yang bersih, apalagi untuk dimasak dan diminum.
LOCAL WISDOM YANG DILAKUKAN
UNTUK MENGATASI MASALAH PENGGUNAAN AIR
Terkadang tanpa disadari kita telah melakukan suatu hal yang sangat bermanfaat dalam menjaga dan mengatasi kualitas air, karena hal itu memang sudah biasa dilakukan secara turun-temurun di suatu daerah, hal inilah yang disebut dengan local wisdom  atau kebijaksanaan lokal. Ada beberapa hal yang termasuk local wisdom terkait dengan permasalahan penggunaan air untuk kehidupan sehari-hari.
Contohnya saja dengan membuat parit-parit kecil dan dam, untuk menampung air hujan, dan air-air yang berasal dari sungai-sungai kecil. Air dam ini dapat dimanfaatkan untuk mengairi persawahan dan pertanian penduduk. Dengan adanya sistem irigasi yang baik, bukan hanya akan memenuhi kebutuhan air untuk pertanian namun juga menjaga kuantitas air untuk kebutuhan lain. Dengan adanya air yang mengalir di dam, menjadi indikasi bahwa air sumurpun pasti juga ada dan belum mengering.
Orang-orang di pedesaan juga biasanya akan menampung air dari sumur selama semalam, sebenarnya tujuan utamanya adalah guna persiapan di keesokan pagi harinya. Namun, ternyata dengan mendiamkan air itu sama dengan melakukan proses pengendapan zat-zat lain yang tidak berguna.
Pernah saya jumpai, di suatu daerah, tepatnya daerah Semarang, keran air di tiap rumah itu diberikan semacam kantong dari kain berwarna putih, namun dasar kantong terlihat berwarna agak kekuning-kuningan. Hal ini bisa dipahami karena adanya unsur logam seperti besi yang terkandung dalam airnya. Maka dari itu mereka berusaha untuk menyaring kotoran itu dengan kain agar airnya bisa agak bersih. Walaupun sebenarnya cara ini belum membersihkan kandungan semuanya.
Dulu, sewaktu rumah saya belum menggunakan air PAM, masih air sumur, ayah saya memasukkan satu atau dua ikan mas ke dalam sumur. Ini dikarenakan terkadang ada jentik-jentik nyamuk atau kotoran-kotoran lain, yang diharapkan ikan akan memakannya. Di bak kamar mandi pun demikian, diberikan satu ikan mas koki. Hasilnya, air bak kamar mandi jarang kotor. Meskipun demikian, secara periodik, air dalam bak mandi harus dikuras dan bak mandi harus dibersihkan (karena ada kotoran ikan).


UPAYA YANG TELAH SAYA LAKUKAN
DALAM MENJAGA KUALITAS AIR
Sebelumnya, saya tidak pernah menyadari bahwa saya pernah melakukan kegiatan yang menjaga kualitas air, namun setelah agak berfikir mendalam ternyata ada beberapa kegiatan penjagaan kualitas air yang pernah saya lakukan, meskipun tidak di daerah tempat saya tinggal. Karena pada dasarnya, tempat tinggal saya yang terletak di Desa Borobudur kabupaten Magelang mempunyai kualitas air yang sudah baik ditinjau dari kriteria air bersih layak minum dari departemen kesehatan, yaitu tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, tidak tercemar bakteri dan tidak mengandung logam berat.
1.      Pengendapan dan Penyaringan Air
Upaya penjagaan kualitas air saya lakukan di daerah tempat tinggal nenek saya, di daerah kecamatan Salaman, masih termasuk dekat dengan area pegunungan. Daerah tempat tinggal nenek saya ini bisa dibilang masih belum banyak tercemar, dilihat dari banyaknya pohon hijau terhampar, dan masih banyaknya area tanah yang tidak tertutup paving,  sehingga memungkinkan sirkulasi resapan air akan bagus. Kebanyakan dari penduduk yang  masih tradisional juga menggunakan sumur dengan mekanisme timba, dan hanya beberapa yang menggunakan pompa air, termasuk nenek saya. Kontradiksi dengan area yang belum tercemar ini, faktanya air sumur baik dari hasil pompa air ataupun menimba manual, rata-rata warnanya sama, agak keruh. Sangat berbeda sekali dengan di daerah tempat tinggal saya yang jernih. Tapi herannya, penduduk desa juga sudah terbiasa menggunakan air itu, baik untuk minum, memasak, mencuci dan keperluan lainnya. Berbeda dengan saya, terkadang saya merasa tidak bernafsu minum, apalagi makan, apabila sedang di sana, membayangkan air yang digunakan.
Sewaktu saya masih kecil, sebenarnya tidak ada masalah dengan air yang terlihat kotor itu, namun setelah saya sekolah, dan mendapat pelajaran IPA waktu SD dulu, yang pernah dikenalkan tentang kriteria air layak minum, entah kenapa langsung terbayang air di daerah tempat tinggal nenek saya. Saya pikir dulu, air itu berwarna agak coklat karena memang daerah itu tanahnya sedikit berjenis tanah liat. Lalu saya mencoba menimba satu ember, dan saya endapkan semalaman, keesokan paginya, ait di ember sudah lumayan jernih, dan dihasilkan endapan mirip tanah di bagian dasar ember. Kemudian, saya memberitahu ibu bibi saya, dan dia mulai menerapkannya, yaitu menimba dan menampung air terlebih dahulu sebelum digunakan. Kebiasaan ini pun kemudian lambat laun terlihat tidak cuma di rumah nenek. Hal yang dilakukan ini, dapat dikatakan sebagai mekanisme pengendapan atau penyaringan yang bertujuan untuk memisahkan air baku dari zat-zat, seperti sampah, dan endapan tanah.
Sebatas itu yang saya lakukan waktu SD. Beranjak SMA, saya mulai lebih mengenal pelajaran IPA dan semakin banyak ilmu yang membuat saya tertarik. Contohnya pada filtrasi air atau penyaringan air. Ini berawal dari jambore dan Lomba Tingkat Pramuka yang salah satu kriteria yang harus bisa adalah upaya penjernihan air dengan metode filtrasi. Kemudian, saya juga kembali percobaan di derah tempat tinggal nenek saya. dengan menggunakan alat dan bahan sederhana, yaitu toples krupuk yang saya curi dari dapur nenek, sapu ijuk (baru), kerikil, pasir kasar dan pasir halus, kapas dan arang (dari dapur nenek juga). Yang kemudian dirangkai sedemikian sehingga berlapir-lapis.
2.      Menjaga Kejernihan Air Kolam dengan Tanaman Air
Jaman-jaman kelas 2 SMA dulu saya sering main ke daerah Ngrajek, rumah teman saya. Ngrajek adalah daerah dengan pasokan air yang sangat melimpah. Di sana tidak ada pembayaran untuk air. Bahkan di setiap rumah memiliki kolam ikan, ada yang digunakan untuk pribadi dan ada yang untuk budidaya dan diperdagangkan. Teman saya ini mempunyai kolam ikan, ada yang di rumah, untuk hiasan, dan di daerah persawahan dekat desanya.
Awalnya tak berniat untuk menjaga kualitas air, hanya ingin membuat kolam terlihat nampak indah, kami menambahkan eceng gondok dan teratai di kolam ikan dan persawahan dekat rumah teman saya, di daerah Ngrajek, Mungkid Kabupaten Magelang. Namun  ternyata setelah searching di internet, iseng-iseng tentang kegunaan eceng gondok, walhasil kami menemukan artikel tentang pemanfaatan tanaman air sebagai sistem biofilter atau filter biologi yang efektif untuk menjaga kualitas air. Kalau dipikir-pikir, teknologi ini sangat efisien, selain ekonomis (barangnya mudah didapat dan gampang berkembang), mudah dirawat, dan pastinya akan ramah lingkungan, tentunya selama jumlahnya masih terkontrol sehingga tidak sampai terjadi eutrofikasi.
Ternyata, tanaman air ini terbukti dapat menyerap zat racun yang dikeluarkan dari kotoran dan urine ikan. Tapi tidak menutup kemungkinan, zay racun juga bisa berasal dari logam berat dan bahan-bahan polutan lainnya. Hal ini dikarenakan tanaman air sangat efektif mengontrol pertumbuhan lumut yang dapat menyerap zat hara untuk ikan secara maksimal.selain itu tanaman air juga meningkatkan kadar oksigen dalam air (DO) melalui proses fotosintesis.
Selain bermanfaat dalam membantu menjernihkan air kolam, tanaman eceng gondok yang berbunga juga bisa menjadi elemen penghias untuk mempercantik pemandangan kolam.
3.      Tercemar Limbah, di Tempuran
Ibu saya bekerja di salah satu pabrik tekstil di daerah tempuran, kabupaten Magelang. Tempuran, adalah pusat pabrik tekstil di Magelang. Ada kurang lebih 3 pabrik tekstil besar, seperti Djohartex, Pandatex dan Usmantex. Pabrik-pabrik ini melingkupi satu daerah dan letaknya hampir berjejeran. Yang namanya pabrik, berbahaya atau tidak pasti juga akan menghasilkan limbah. Dan limbah, walaupun tadinya tidak berbahaya, akan menjadi berbahaya saat akumulasinya melebihi dari jumlah normal.
Keluhan-keluhan dari beberapa teman ibu yang tinggal di dekat area pabrik itu adalah sumur semakin dalam. Ini berarti jumlah air semakin sedikit. Faktornya bisa saja berkaitan dengan pabrik, atau memang karena musim.

0 komentar:

Posting Komentar